Brrrrrrrrrrrrrrr!! Dinginnya Nikko

Setelah puas berkeliling Tokyo, saya memilih Nikko sebagai tujuan wisata selanjutnya di Jepang. Mengapa Nikko? Karena Nikko dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan, tidak terlalu jauh dari Tokyo. Akses transportasi dari Tokyo menuju Nikko pun cukup mudah. Sehingga saya dapat melakukan one day trip ke Nikko.

Sejuk udara pagi membelai wajah membuat saya bergegas melangkahkan kaki menuju Stasiun Asakusa. Berdasarkan informasi, saya dapat membeli World Heritage Pass yaitu paket hemat untuk berwisata ke Nikko yang sudah termasuk biaya transportasi dan tiket masuk ke berbagai tempat wisata di Nikko.

Begitu masuk ke kantor penjualan tiket, saya disambut oleh dua petugas perempuan yang cantik dan ramah. Saya menjelaskan keinginan untuk membeli One Day World Heritage Pass. Oh ya, kita juga dapat memilih opsi Two Days World Heritage Pass. Namun karena cuti yang terbatas, terpaksa saya hanya dapat menikmati Nikko selama satu hari penuh.

Petugas cekatan melayani dengan baik. Di sela-sela transaksi tiket, sang petugas menanyakan asal negara. Saya pun menjawab bahwa saya berasal dari Indonesia. Wah mereka kaget dan bertanya darimana kami mengetahui tentang program World Heritage Pass ini? Karena sepertinya jarang orang Indonesia yang datang untuk membeli paket wisata ini. *Ihiwwwww jadi orang Indonesia pertama nih hehehe..ge er *

Setelah mendapatkan tiket, peta, dan penjelasan yang detil mengenai perjalanan dan tempat-tempat wisata di Nikko, saya segera menuju stasiun yang ditunjuk oleh petugas. Tidak perlu menunggu lama, keretanya pun datang. Saya meloncat naik ke dalam gerbong yang ditunjukkan oleh petugas stasiun. Ingat ya, kita harus mengikuti petunjuk dengan benar karena nanti di satu stasiun tertentu gerbong yang kita naiki akan memisahkan diri dengan gerbong di depannya. Jadi, kalo salah naik gerbong bisa salah tujuan hehehe.

Perjalanan terasa begitu mengasyikan. Terlihat perubahan pemandangan yang saya nikmati dari bibir jendela kereta selama perjalanan. Sebelumnya yang terlihat adalah gedung-gedung pencakar langit dan jalan-jalan raya yang besar. Kemudian berganti menjadi pemandangan pedesaan yang identik dengan lahan pertanian dan hutan yang sangat asri.

Akhirnya kereta berhenti di stasiun Tobbu-Nikko. Begitu keluar, udara dingin langsung menyergap. Brrrrrrrrrrr asli! Udara di sana dingiiiiiiiinnn sekali. Berbeda dengan udara di Tokyo yang mulai hangat di bulan Mei. Siang hari kabutnya sudah turun dan lumayan tebal. Saking dinginnya mulut saya mengeluarkan asap ketika berbicara.

IMG_0259

Nikko adalah tempat yang tepat bagi para traveler yang ingin menikmati wisata budaya dan kangen dengan suasana berbau alam dengan nuansa Jepang tempo dulu. Nikko berada di kaki gunung dan dikenal sebagai kota kuil Jepang. Monumen alam, kuil, dan taman nasional di sana memiliki legenda tersendiri yang sangat menarik untuk dikunjungi. Tidak heran mereka menyatakan Nikko sebagai salah satu kawasan World Heritage Jepang. Pemandangan Nikko sangat indah. Kanan dan kiri terdapat perumahan yang memiliki ciri khas rumah-rumah pedesaan Jepang. Rumah-rumah itu digandeng dengan pepohonan hijau yang menimbulkan kesan damai dan menyejukkan.

Saya melangkahkan kaki keluar stasiun untuk menunggu bus yang akan mengantarkan menuju kawasan World Heritage Nikko. Sepuluh menit kemudian, sebuah bus khusus datang menjemput. Saya segera naik dan mengambil tempat duduk dekat jendela. Tidak sabar rasanya berkeliling Nikko untuk menikmati keindahan kotanya.

Perjalanan menuju kawasan World Heritage Nikko dari pemberhentian pertama memakan waktu sekitar 20 menit. Sampai di tempat yang di tuju, udara semakin dingin. Gigi mulai bergemulutuk dan syal di leher semakin dikencangkan. Saya langsung menuju ke bagian tiket. Tiket berbentuk segi panjang itu terdiri dari beberapa tiket kecil untuk mengunjungi beberapa kuil bersejarah di sana. Setiap kita akan memasuki kuil, kertas tiket akan disobek sesuai dengan nama kuil yang dikunjungi.

Masing-masing kuil memiliki sejarah tersendiri sehingga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang dilestarikan di Nikko. Kekayaan budaya itu diperhatikan betul sepertinya oleh pengelola setempat. Semua kuil nampak dirawat dan dijaga dengan baik oleh petugasnya. Pengunjungnya pun turut menjaga kebersihan Nikko dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak merusak cagar budaya.

Tujuan pertama saya adalah Toshogu Shrine, kuil tempat peristirahatan terakhir dari Tokugawa Leyasu dari Shogun Tokugawa yang pernah memimpin Jepang selama lebih dari 250 tahun. Dekorasi kuilnya sangat indah karena kuil Toshugu menggabungkan elemen dari Shinto dan Budha. Hal yang jarang ditemui di kuil-kuil lainnya. Yang menarik perhatian saya adalah pahatan 3 monyet yang menutup kuping, mulut, dan mata. Filosofi dibalik pahatan itu luar biasa sekali. Bahwa mendengar, berbicara, dan melihat hanya hal-hal baik saja. Hati saya pun tersentuh. Haru!

IMG_0260

Setelah puas menikmati keindahan Kuil Toshugu, saya melangkahkan kaki menuju Kuil Futarasan. Kuil ini dibangun oleh pendeta yang mengenalkan agama Budha di Nikko untuk pertama kalinya. Saat berjalan di Futarasan, perasaannya teduh sekali. Pohon-pohon tinggi berjajar dibelakang kuil seakan menjaga kuil dari hal-hal buruk. Di pojok Futarasan, beberapa umat Budha terlihat melakukan persembahan.

Baru saja berkeliling di dua area, rasa lapar datang menyergap. Saya segera kembali menuju Tourist Information untuk meminta rekomendasi tempat makan siang. Saya menuju restoran yang terletak tidak jauh dari kawasan wisata. Katanya, makanan khas Nikko itu enak-enak. Saya pun sibuk memilih-milih makanan. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada home made Yuba dan Soba.

imagesfoto Yuba diambil dari http://www.plantfoods.org

Yuba adalah kulit tahu yang digulung-gulung. Pada jaman dahulu, banyak pendeta vegetarian memakan tahu. Saat membuat tahu, terbentuk lapisan diatasnya. Lapisan inilah yang kemudian digunakan menjadi Yuba. Yuba ini enaaaaaak banget. Saya sampai nambah. Hehehe

Lalu saya mencoba Soba. Soba ada mie yang terbuat dari bubuk soba dan dapat dihidangkan bersama kuah hangat. Cocok banget untuk udara dingin. Rasanya wow bangeet. Kuahnya berhasil menghangatkan badan.

Selesai makan, saya pun siap berkeliling kembali. Tujuan selanjutnya adalah Kuil Rinnoji. Kuil yang penting di Nikko ini dibangun oleh Shodo Shonin, pendeta Budha yang mengenalkan agama Budha di Nikko untuk pertama kalinya. Shodo Shonin pula yang membangun Kuil Futarasan. Kuil ini berwarna merah cerah. Saya harus menaiki beberapa anak tangga untuk tiba di depan kuil. Yang juga membuat seru adalah saat melihat rombongan anak sekolah Jepang mengambil gambar (foto) bersama di depan Kuil. Mereka sangat cute dalam balutan seragam dan berbaris dengan tertib.

Mata saya melirik jam di pergelangan tangan. Wah sudah sore rupanya. Sepertinya saya harus melewatkan kunjungan saya ke Kegon Falls, air terjun terkenal di Nikko dan tertinggi di Jepang dengan ketinggian 97M dan Danau Chuzenji yang super indah. Danau Chuzenji sangat indah terutama di musim gugur saat pohon-pohon berubah warna keemasan. Disini kita dapat naik kereta gantung (cable car) untuk melihat pemandangan sekitar. Air terjun Kegon kabarnya dapat terlihat dari kereta gantung tersebut.

Whoaaa…Sedih sekali karena tidak sempat ke dua tempat tersebut. Namun apa daya, saya harus mengejar kereta kembali dari Nikko ke Tokyo. Ternyata satu hari di Nikko itu tidaklah cukup. Saya berjanji, suatu hari nanti ingin kembali ke Nikko untuk mengeksplorasi tempat-tempat keren yang belum sempat dikunjungi.

Sayonara Nikko

IMG_0258

 

Living Abroad

Awalnya bermula dari mimpi dan rasa penasaran untuk mencoba bersekolah dan hidup di luar negeri. Rasa yang begitu kuat tersebut membawa saya untuk mencoba mendaftar berbagai macam beasiswa. Akhirnya beasiswa DAAD membawa saya ke Leipzig.

Saat ini, lebih dari 2 tahun saya telah merasakan bersekolah dan hidup di kota yang terletak di Jerman Timur ini. Pengalamannya sangat berwarna warni. Culture shock, sudah tentu. Namun juga banyak cerita seru yang saya ingin bagi. Mulai dari mendapatkan beasiswa hingga seperti apa rasanya hidup di luar negeri. Nantikan postingan selanjutnya ya 🙂

List Beasiswa ke Jerman

Walaupun biaya kuliah di Jerman tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara lain (termasuk Indonesia), namun biaya hidupnya relatif tinggi. Oleh karena itu beasiswa akan sangat membantu. Berikut list beberapa beasiswa ke Jerman:

  1. Beasiswa DAAD, http://www.daadjkt.org

  2. Beasiswa Dikti, http://beasiswa.dikti.go.id/web/

  3. Beasiswa Erasmus Mundus,

http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/more_info/erasmus_mundus/index_id.htm

  1. Beasiswa Debt Swapt, http://ds5k.kemdiknas.go.id/?show=beranda

  2. Beasiswa LPDP, http://www.beasiswalpdp.org/

  3. Beasiswa dari Institut riset di Jerman, seperti Max Planck dan Fraunhofer.

  4.  Beasiswa untuk muslim https://www.stiftung-mercator.de/en/project/avicenna-studienwerk/

Selamat berburu beasiswa 🙂