Entah kenapa, saya senang sekali terbang dengan pesawat. Dan lebih menyenangkan lagi kalo saya dapat menggunakan pesawat berbadan lebar. Norak ya J. Dulu, untuk rute Jakarta-Malaysia saya paling senang menggunakan armada dari Negara tulip. Pesawat jenis 747 700 dengan 2 lantai. Harga tiketnya kadang tidak jauh beda bahkan bisa lebih murah dari low budget airlines dari negeri jiran yang serumpun. Plus dapat makan enak lagi. Siapa coba yang tidak mau?
Itu baru kesenangan pertama. Kesenangan kedua, saya bisa check in online alias bisa memilih tempat duduk sendiri. Tempat duduk favorit saya biasanya deket dengan sayap pesawat. Mau tau kenapa? Karena saya Gelbo (ndut, lebar, dan boelat J ) jadi butuh space yang lebih besar. Menurut saya tempat duduk di area dekat sayap pesawat biasanya lebih lebar. Bahkan waktu saya sering business trip tahun lalu saya bisa hafal, nomor tempat duduk 37 bila pesawatnya berjenis 747 700 atau 17 bila pesawatnya berjenis 747 300. Sayangnya, perusahaan hanya mengakomodir untuk kelas ekonomi.
Sering bermimpi kapan ya bisa mencoba kelas business. Membayangkan kelas business melalui buku Naked Traveller sepertinya menyenangkan. Pucuk di cinta ulam tiba. Pada saat selesai dinas dari Malaysia, saya tergopoh-gopoh ke bandara karena saya sudah telat. Ternyata saya orang yang terakhir check in. Fiuhh. Tadinya saya tidak sadar kalo mereka meng-upgrade dari kelas ekonomi ke kelas bisnis. Mereka juga memberikan kartu hijau untuk di serahkan di bagian imigrasi. Ternyata, kelas bisnis mempunyai line khusus untuk antrian imigrasi. Wah, senangnya. saya tidak perlu antri. Mereka juga memberikan saya pass untuk masuk business lounge. Uihhhh menggoda sekali untuk dicoba. Sayang, saya harus mengejar pesawat.
Begitu masuk pesawat, seperti yang bisa ditebak. Saya kayak orang udik. Terkekeh-kekeh sendiri. Sayapun senyum-senyum ketika dipanggil dengan julukan madam. “Wah, kejadian juga nih kayak cerita di Naked Traveller pikir saya. Saya ditawarkan minum terus menerus dengan gelas asli. Snacknya pun tidak main-main berbagai macam kacang yang mahal-mahal tersedia. Intinya berbagai hal menyenangkan terjadi di kelas bisnis. Saya bak cleopatra yang sedang berada di istananya. Dari semua pelayanan yang ekstra, yang saya paling suka satu, yaitu tempat duduknya. Besar sekali. Muat dan pas sekali dengan pantat saya yang besar ini. Bahkan, ada sisa tempat. Sehingga, saya dapat duduk sangat nyaman dan dapat bergerak sesuka hati. Sesampainya di rumah, saya telp si-dia dan menceritakan serunya pengalaman pertama naik kelas bisnis. Hingga saya berkomentar sekarang saya tahu tempat duduk yang paling pas untuk pantat saya yaitu kelas bisnis”. Si dia pun langsung membalas dengan tertawa kecil, “Bukannya harus naik kelas bisnis tapi pantat kamu yang harus dikecilin” hehe
…
Ps: saya akan menceritakan kesenangan dan keudikan di kelas bisnis dalam cerita lain.



